Seorang lelaki penuh luka dalam hidupnya. Ia selalu merasa gagal dalam setiap pekerjaan bahkan dalam hal membina sebuah rumah tangga yang utuh dengan istrinya. Walaupun cintanya “tanpa pamrih”, cinta yang utuh, tulus tanpa ada pertimbangan “untung dan rugi”. Ia cinta pekerjaanya, ia cinta istri dan anak semata wayangnya, ia cinta akan mereka yang selalu mengasuhnya termasuk sahabat-sahabatnya. Karena ia yakin cinta tanpa pamrihnya itu akan membawa hasil yang maksimal.
Kegagalan yang ia rasakan semakin menggunung, seakan meledak saat itu akan meledak bagai bom yang bisa menghancurkan segalanya. Ia sadari kekurangannya. Tetapi kesalahan dan kegagalannya mengalahkan cintanya, hingga kemelut dirinya melitit hati terdalamnya. Ia selalu mengumpat orang lain yang membuat kegagalannya. Cinta tanpa pamrihnya luntur.
Melihat anaknya dirundung duka yang panjang, perempuan renta yang mengenalkan ia kedunia bertanya, “Anakku, apa yang yang membuat engkau berduka, bukankah hidup ini mulia, anakku.”
Ia menjawab dengan lirih, “Mak, rasanya aku tak berdaya, tiada berguna aku hidup, nyawaku inipun tak mengandung arti apa-apa karena aku manusia pemarah dan selalu membuat kesalahan, padahal bukan karena aku.”
Sang ibu berkata,” Itu masalah yang bisa diselesaikan anakku”
Ia menjawab dengan muka merah dan heran, “Aku gagal Mak, hidupku ini selalu jadi masalah, dan ini masalah besar bagiku dan orang lain.”
Perempuan renta itu tidak mampu titik temu untuk meredakan emosi lelaki berduka.
Baca entri selengkapnya »